Jumat, 16 Desember 2016

Makalah kulit dan pengaturan suhu



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan peka (Wasitaatmadja, 2002).
Luas kulit orang dewasa 2 m2 dengan berat kira-kira 16% berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital vserta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitive, bervariasi pada keadaan iklim, umur, jenis kelamin, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh. Kulit mempunyai berbagai fungsi seperti sebagai perlindung, termoregulator dan fungsi metabolik.
Fungsi utama dari kulit adalah sebagai pelindung tubuh atau protektor. Kulit merupakan benteng pertahanan pertama dari berbagai ancaman yang datang dari luar, seperti bakteri. Sel-sel langerhans yang terdapat dalam lapisan kulit epidermis kulit merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Kulit juga berfungsi sebagai sekresi. Minyak yang dihasilkan kelenjar minyak dikeluarkan melalui kulit. Kandungan urea hasil metabolisme tubuh sebagian dikeluarkan melalui kulit (yaitu dengan berkeringat). Fungsi sekresi ini berkaitan dengan fungsi kulit lainnya sebagai thermoregulator atau pengatur suhu tubuh, Dalam kulit juga terdapat syaraf-syaraf yang jika terstimulasi akan diteruskan ke otak sehingga dapat memberikan sensasi panas, dingin, tekanan, getaran, rasa sakit. Kulit juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan air dan lemak, sekaligus mensintesa vitamin D.
Kulit merupakan organ yang sangat penting dimana kulit juga berfungsi sebagai tempat pengeluaran (ekskresi) dalam bentuk keringat. Dari latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk membahas tentang kulit dalam makalah ini dengan judul KULIT DAN PENGATURAN SUHU





B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka penulis akan menentukan rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan kulit?
2.      Bagaimana anatomi kulit ?
3.      Apa saja lapisan-lapisan kulit
4.      Terdiri dari apa saja Adneksa Kulit?
5.      Bagaimana cara Pengaturan Suhu?
6.      Apa saja Jenis – Jenis Penyakit  Pada Kulit?

C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah dan juga untuk membantu pembaca dalam mencari tambahan informasi mengenai Kulit Dan Pengaturan Suhu.

berminat???
email to : jurnalisid57@gmail.com 
or WA :083181076754

Kamis, 15 Desember 2016

Nilai Moral dalam Kecupan yang sangat dirindunya



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ajaran moral dalam karya sastra seringkali tidak secara langsung disampaikan, tetapi melalui hal-hal yang sifatnya amoral dulu. Hal ini sesuai apa yang dikenal dengan tahap katarsis pada pembaca karya sastra. Meskipun sebelum mengalami katartis, pembaca atau penonton dipersilahkan untuk menikmati dan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang sebetulnya tidak dibenarkan secara moral, yaitu adegan semacam pembunuhan atau banjir darah yang menyebabkan penonton atau pembaca senang tetapi juga muak. Jadi untuk menuju moral, seringkali penonton harus melalui proses menyaksikan adegan yang tidak sejalan dengan kepentingan moral (Azis, 2011: 143).
Seirama dengan uraian tersebut, diketahui bahwa semakin banyak fenomena-fenomena yang terjadi sekarang di tengah masyarakat yang terkadang tidak mengindahkan tentang perilaku-perilaku menyimpang. Ambillah misalnya novel Kecupan yang Sangat Dirindunya karya Taufiqurrahman al Azizy kisah di dalam novel ini merupakan potret hidup manusia yang tak lepas dari berbagai godaan yang jika salah menenentukan sikap akan membawa pada kesesatan.
Novel Kecupan Yang Sangat Dirindunya ini berisikan tentang seorang gadis kecil yang berusia sepuluh tahun, terjebak dalam perselisihan diantara kedua orang tuanya. Sekian tahun tinggal bersama kakek dan neneknya di kampung, gadis kecil itu merindukan kedua orang tuanya. Namun ketika sang ayah menjemputnya untuk tinggal bersama, gadis kecil itu menemukan fakta tentang kedua orang tuanya masing-masing yang saling mencurigakan. Fakta itu membuat Kharisma gundah dan gelisah sehingga membuat kharisma ingin mencari kebenarannya.
Novel ini merupakan novel yang cocok untuk dibaca karena mempunyai banyak amanat atau ajaran moral yang disampaikan melalui novel ini. Novel Kecupan Yang Dirindunya ini adalah novel karangan Taufiqurrahman al Azizy yang merupakan salah satu penulis terkenal yang telah melahirkan banyak novel. Taufiqurrahman al Azizy lahir pada 9 Desember 1975. Asli orang Indonesia, tepatnya Jawa Tengah. Pernah nyantri di Pesantren Ilmu al-Qur’an “Hidayatul Qur’an” yang diasuh oleh KH. Drs. Ahsin Wijaya al-Hafizh, M.A. Pernah pula kuliah di Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jawa Tengah.
Sehubungan dengan hal di atas, penulis tertarik untuk mengkaji nilai moral dalam novel Kecupan yang Sangat Dirindunya karya Taufiqurrahman al Azizy

berminat???
email to : jurnalisid57@gmail.com
or WA :083181076754


ANALISIS GAYA BAHASA DAN NILAI YANG TERKANDUNG DALAM NASKAH DRAMA KARYA ARIFIN C NOOR



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sastra adalah suatu seni yang hidup bersama-sama dengan bahasa. Tanpa bahasa sastra tidak mungkin ada. Melalui bahasa ia dapat mewujudkan dirinya berupa sastra lisan, maupun tertulis. Walaupun perwujudan sastra menggunakan bahasa, kita tidak dapat memisahkan sastra dari bahasa, ataupun membuangnya dari peradaban bahasa itu sendiri.
Drama adalah salah satu jenis karya sastra yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan karya sastra jenis lain, yaitu unsur pementasan yang mengungkapkan isi cerita secara langsung dan dipertontonkan di depan umum. Oleh karena itu setiap tokoh mempunyai sifat-sifat kritis sebagai penyampai amanat dari pengarangnya, misalnya satire, humor, ambiguitas, sarkasme ataupun kritik-kritik sosial lainnya yang tergambar melalui dialog-dialog antartokoh. Unsur paling pokok dalam sebuah drama ada empat, yaitu lakon (naskah drama atau text play), pemain (aktor atau aktris), tempat (gedung pertunjukan), dan penonton. Pada hakekatnya Prosa Fiksi dalam bentuk naskah drama adalah suatu cerita rekaan yang didalamnya terdapat struktur yang di bangun oleh unsur-unsur sastra.
Pada sebuah drama atau naskah drama terdapat beberapa pendekatan-pendekatan. Setiap naskah drama dapat di analisis dan dikaji melalui pendekatan drama. Yaitu: Pendekatan Objektif, Pendekatan Mimesis, Pendekatan Ekspresif, Pendekatan Pragmatik, Pendekatan Posmodernisme, Pendekatan Studi Kultural, Pendekatan Feminisme.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kajian Teori
1.      Gaya Bahasa
Pradopo (1997: 263) mengemukakan bahwa gaya bahasa merupakan sarana sastra yang turut menyumbangkan nilai kepuitisan atau estetika karya sastra, bahkan seringkali nilai seni suatu karya sastra ditentukan oleh gaya bahasanya. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan fungsi tertentu. Dalam karya sastra yang efektif tentu ada fungsi estetik yang menyebabkan karya yang bersangkutan bernilai seni. Nilai seni dalam karya sastra disebabkan oleh adanya gaya bahasa dan fungsi lain yang menyebabkan karya sastra menjadi indah seperti adanya gaya bercerita atau pun penyusunan alurnya.
Dick Hartoko dan Rahmanto (dalam Pradopo, 1997: 266) berpendapat bahwa ada beberapa pandangan mengenai gaya bahasa sebagai suatu gejala dalam sastra yaitu sebagai berikut: 


berminat???
email to : jurnalisid57@gmail.com
or WA :083181076754

ANALISIS GAYA BAHASA DAN NILAI YANG TERKANDUNG DALAM NASKAH DRAMA BUNGA RUMAH MAKAN KARYA UTUY T SONTHANY



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Karya sastra pada umumnya menceritakan kenyataan hidup dalam bentuk artistik sehingga kehadirannya mempunyai arti tersendiri bagi si pembaca atau si penikmatnya. Menurut Semi (1984: 2) Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Drama sebagai karya sastra tidak terlepas dari pembicaraan di atas. Dalam drama, masalah kehidupan dan kemanusiaan yang dikemukakan biasanya tidaklah terlepas dari aspek-aspek sosial masyarakat dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya. Drama juga menyajikan aspek-aspek perilaku manusia terhadap jenisnya dalam kaitannya dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Kata “drama” berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action (Waluyo 2003: 2). Drama juga dapat didefinisikan sebagai cerita yang dipertunjukkan karena pada dasarnya drama merupakan dialog dari tokoh dalam cerita yang diperankan dalam panggung. Drama, sebagai suatu genre sastra mempunyai kekhususan dibandingkan dengan genre sastra lain, layaknya piuisi dan fiksi. Kekhususan drama disebabkan tujuan drama ditulis oleh pengarangnya tidak hanya berhenti sampai pada tahap pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajenatif oleh pembacanya, melainkan juga harus dilanjutkan pada sebuah pementasan secara visual di atas panggung pertunjukkan.
Kekhususan drama inilah yang menjadikan drama sebagai genre sastra yang berorientasi pada seni pertunjukkan dibanding genre sastra lain. Untuk itulah, drama dapat dianggap sebagai suatu karya yang memiliki dua dimensi, yakni dimensi sastra dan dimensi seni pertunjukkan. Penghargaan naskah drama dapat dilakukan dengan cara mengapresiasi sastra lakon tersebut melalui berbagai pendekatan karya sastra. Seperti halnya puisi dan prosa, drama sebagai karya sastra perlu diapresiasikan lewat pembacaan terhadap naskahnya. Pengertian apresiasi dalam drama sama dengan apresiasi sastra lainnya, yakni merupakan penaksiran kualitas karya sastra serta pemberian nilai yang wajar kepadanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang jelas, sadar, serta kritis. Apresiasi sastra ialah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan pemahaman (Panuti Sudjiman, 1990:9).
Setiap naskah drama memiliki keunikan tersendiri bergatung pada penulis drama sendiri. Naskah drama Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya memiliki daya tarik dalam hal amanat bagi pembaca. Oleh karena itu, penulis memilih pendekatan pragmatik untuk menganalisis naskah drama Bila Malam Bertambah Malam. Semakin banyak nilai pendidikan moral, budaya, politik dan atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, makin tinggi nilai karya sastra tersebut.
jika berminat untuk makalah ini, maka silahkan 
berminat???
email to : jurnalisid57@gmail.com
or WA :083181076754